Home » » Kisah Air Bama

Kisah Air Bama

Written By Jhoe Wain on Senin, 22 Juli 2013 | 22.43

kisah air bama flores timur, cerita daerah flores timur, cerita daerah ntt, kumpulan cerita daerah, cerita daerah larantuka, flores timur, larantuka



Sumber Air Bama terletak 23 Km, arah barat Kota Larantuka Kabupaten Flores Timur, yang memberi kehidupan bagi para penduduk Kota Larantuka dan daerah sekitarnya, mempunyai cerita yang sangat unit dan menarik. Air Bama Merupakan sumber mata air utama untuk Kota larantuka.

Pada zaman dahulu kala di Desa Onge kampung lama dari Desa Lewokluo ( sekarang ), tinggallah dua bersaudara. Yang pria bernama Bolok Jawa dan wanita bernama Sabu Peni.mereka berasal dari marga Leyn. Orang tua mereka sudah meninggal di kala keduanya telah berajak remaja. Keduanya hidup rukun dan damai. Bolok Jawa berladang dan menyadap lontar sedangkan Sabu Peni menenun dan mengurus rumah tangga selayaknya semua wanita di kala itu.

Air minum merupakan masalah utama bagi Desa Onge maupun desa desa di sekitarnya. Hal ini sangat dirasakan apabila musim kemarau tiba. Penduduk mengeluh kekurangan air. Tidak jarang penduduk meninggal akibat kehausan.
Apabila musim kemarau tiba kaum wanita beramai ramai memasuki hutan untuk menyadap embun pagi yang tergenang di dedaunan. Pekerjaan yang sangat berat dan membosankan selama enam bulan lamanya. Menjelang pagi buta mereka memasuki hutan membawa perlengkapan menyadap embun untuk memasak makan dan untuk minum selama sehari.Sabu Peni mengerjakan pekerja ini dengan tabah namum dalam hati kecilnya menyimpan harapan besar untuk dapat menemukan sebuah sumber air bagi desanya dan kaum keluarganya.

Pada suatu pagi yang cerah, Sabu Peni memesuki hutan untuk menyadap embun seekor anjing piaraan Bolok Jawa mengikutinya. Sabu Peni sibuk mengerjakan pekerjaannya dan sang anjing pun menghilang. Namum di kala dia hendak kembali sang anjing muncul dan menemaninya ke rumah. Sabu Peni terkejut melihat mulut anjing berlumpur, Sabu Peni mendekatinya dan mengamati secara baik, dan setelah di amati secara saksama diketahuinya ada lumpur yang melekat di jemari sang anjing. Hatinya sangat lega. Sabu Peni bergegas kembali ke rumah. Malam harinya ia membuat rencana untuk membawa sang anjing keesokan harinya.

Pagi hari ke dua, Sabu Peni bergegas bangun. Di panggilnya anjing itu ke duanya memasuki hutan. Sang anjing menghilang lagi dan takala hendak kembali, sang anjing datang. Kali ini lumpur semakin banyak melekat di tubuh sang anjing, maka Sabu Peni yakin bahwa sang anjing telah menemukan sebuah sumber air. Pada malam harinya Sabu Peni menggayam sebuah bakul kecil, diisinya abu dapur sampai penuh, pada bagian bawahnya di beri lubang tempat abu dapur tercecer. Malam harinya Sabu Peni tidak bisa tidur dia membayangkan betapa bahagianya warga desa seandainya rencana itu berhasil, terlebih kaum wanita dapat mengakhiri pekerjaan rutin dan berat itu.

Pada hari ke tiga, Sabu Peni bangun sebagaimana biasanya. Dia memanggil anjing, dibawanya perlengkapannya serta bakul yang berisi abu dapur. Setibanya di tempat dia menyadap embun,dia memanggil anjing, di ikatnya bakul kecil di leher anjing dan ia pun berkerja sebagaimana biasanya. sang anjing menghilang dan takalan ia hendak kembali, sang anjing datang. Segera ia memaggil anjing itu dan memeriksanya. Ternyata bakul itu telah kosong. Sabu Peni bergegas berjalan menyelusuri ceceran abu dapur itu dan di temani anjing piarannya. Perjalanan amat jauh dan melelahkan, melewati hutan lebat, mendaki gunung, menuruni lembah ia tak memikirkan bahaya yang akan menimpahnya. Dia terus berjalan dan tak kenal lelah. Dan tak kala menjelang tengah hari, tibalah Sabu Peni di Air Bama, sekarang bernama Leto Behe. Anjing berlari dan berhenti pada dedaunan kering, seakan memberi petunjuk kepada Sabu Peni untuk datang ketempat itu. Didapatnya lumpur basah lalu ia membersihkannya, tempat disekitarnya dengan tangannya. Dikoreknya lumpur basah itu air semakin jerni memenuhi lubang kecil Hatinya sangat girang. Sabu Peni menggali lubang itu semakin besar,air segera memenuhi lubang itu,lalu ia menimba dan meneguknya sampai puas dan mengisi tempatnya sampai penuh. Ia pun mandi sepuas-puasnya. Pakaiannya basah kuyup. Dicucinya ambut yang panjang terurai itu. Kemudian ia memjujung tempayangnya dan kembali kekampung di temani sang ajing. Bolok Jawa yang bingung dan cemas menunggu kedatang Sabu Peni. Ia sangat senan menyambut kedatangan adiknya. Berita itupun tersebar . Bolok Jawa mengumpulkan beberapa kawan prianya dan pergi menuju Leto Behe. Peduduk Desa Onge bergembira sejak saat itu. Sabu Peni disanjung-sanjung dan disayangi segenap warga desa.

Setelah sebulan lamanya, pada suatu malam Sabu Peni bermimpi. Dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang pria tampan dan gagah, sang pemuda itu menceritakan padanya bahwa dialah pemilik sumber air itu. Sang pemuda telah jatuh cinta pada sejak pertemuan pertamanya di Leto Behe. Sang Dewa Air [Nitung = Lamaholot] itulah yang memberi air itu, karena cintanya kepada gadis Sabu Peni, dan ia berjanji apabila Sabu Peni menerima cintanya, maka ia akan menjadikan sumber air itu menjadi besar dan deras, alirannya sampai kelaut dan tidak akan berkurang sepanjang masa.

Pagi harinya Sabu Peni menceritakan minpinya kepada Bolok Jawa, namun anehnya Bolok Jawa pun berminpi yang sama dengan Sabu Peni. Sabu Peni ditanyai kesediaannya. Dan ternyata Sabu Peni sangat senang hatinya. Sabu Peni mengiahkannya. Bolok Jawa pun merelakannya, karena mereka yakin bahwa seorang anak manusia akan meninggalkan dunia fana ini apabila Dewa/Nitung telah jatuh cinta kepadanya.

Malam hari tiba, mimpi pun selalu datang. Sabu Peni selalu bertemu dengan Dewa Air. Dia menunjukan kehidpannya dikemudian hari setelah menikah dengannya. Kemewahan hidup sang Dewa Air mendorong Sabu Peni untuk mengorbankan dirinya untuk segera menemui kehidupan yang baru.

Bolok Jawa merasa sangat tersiksa mengenang hari-hari kehidupannya dimasa depan tampa keponakannya yang lahir dari seorang ibu . Namun Sabu Peni menghiburnya dengan berkata bahwa Bolok Jawa akan dikurniakan panjang umur dan bahagia di hari tuanya bersama istrinya. Sabu Peni memilih calon tunangan kakaknya, seorang gadis yang rajin, anak saudara paman laki laki bunda mereka yang tercinta. Akhirnya Bolok Jawa pasrah.

Sabu Peni menyuruh Bolok Jawa mendirikan baleh baleh di sumber air Leto Behe dan mengundang seluruh warga desa dan kaum keluarganya. Sabu Peni mengenakan pakaian pengantin sebagaimana biasanya, dia di antarkan ke sumber air itu didudukinya di baleh baleh yang didirikan oleh Bolok Jawa.

Pada hari yang telah ditetapkan, tiba semua keluarga berkumpul pada malam hari di adakan pesta yang sangat meriah. Keesokan harinya Sabu Peni berdandan dan semua warga desa bergerak dari Desa Onge menujuh ke Leto Behe. Setibanya mereka di situ satu persatu mereka memluk dan mencium Sabu Peni untuk terakhir kalinya. Para wanita menangis meratapinya, namum Sabu Peni tetap tegar dan tidak meneteskan air mata. Yang terakhir saudara satu satu yang selama hidup menjaga dan merawatnya, sang kakak Bolok Jawa menciumnya keduanya berpelukan cukup lama, semua yang ada di stu turut menangis melihat perpisahan kedua anak yatim piatu yang mengharuhkan. Perpisahan yang tidak bisa di ukiri oleh akal manusia, namum kenyataan dan kepercayaan yang membuat keduanya saling merelakan, sehingga sang kakak yang terlihat tegar pun tak bisa menahan deraian air mata. Sementara itu Sabu Peni berbisik di telinga Bolok Jawa, apabila air telah naik menutupi wajah ku, sanggulku akan terlepas, rambut ku akan bertebaran di permukaan air, maka akan terdengar letusan yang amat dahsyat dan kalian semua akan berlari meninggalkan tempat ini, tetapi engkau janganlah takut,berdiri ditepi kali ini dan apa saja yang hanyut bawah air ke arah mu, pungutlah dan di bawah ke rumah mu. Kedua nya berhenti menangis, hari telah siang Sabu Peni meluruskan kakinya ke selatan dan tenang menantikan saat saat terakhir hidupnya.

Air mulai naik sampai akhirnya menutupi wajahnya. Sanggulnya pun terlepas dan rambutnya terurai bertebaran di atas permukaan air, maka terjadilah letusan yang sangat dahsyat, semua orang pengiring berlari berhamburan namum Bolok Jawa masih tetap berdiri sendiri sambil menantikan apa yang di pesankan adiknya. Tak lama kemudian air menghayutkan sebatang kayu kering, seutas tali hutang dan beberapa daun kering kearahnya. Bolok Jawa memunggutnya dan membawa pulang ke rumah sembil menangis. Setibanya di rumah, diletaknya di pondok tampat ia menyadap lontar. Namum keesokan harinya benda tak berharga itu berubah wujud menjadi sebatang gading besar dan panjang, seutas rantai emas dan kepingang uang perak, dan Bolok Jawa mengambil benda itu dan menyimpannya di rumahnya. Segenap warga kampng datang melihat benda benda berharga yang merupakan belis Sabu Peni yang diberikan oleh suaminya Sabu Peni Dewa Air Leto Behe.

Takala pembukaan area ladang tahun itu Bolok Jawa memilih dekat lokasi sumber air Leto Behe, hujan tahu nitu sangat banyak hasil padi dan jagung bakal melimpah, di kala musim jagung muda tiba babi ladang masuk ke ladangnya dan memakan jagungnya, hatinya sangat sedihm, Bolok Jawa memutuskan memasang jerat ladak. Keesokkan paginya seekor ladak jantan berhasil di tangkapnya, hatinya sangat lega dan puas,dipangan daging ladak itu dan di santapnya sampai puas.

Dua hari kemudian menjelang sore terdengar suara sang bayi menangis. Sang bayi terus saja menangis, keteika itu terdengar suara ia mengatakan Wahai saudarku Bolok Jawa, begitu tega engkau menangkap bintang peliharaan kami tanpa seizinan kami, suara itu sungguh sungguh suara Sabu Peni, Bolok Jawa berlari menujuh sumber air. Suaranya kedengar jelas datangnya dari arah batu besar dekat sumber air itu, sejenak Bolok Jawa memanggil katanya Sabu saudaraku, aku sudah di sini bagaimana aku dapat bertemu kali ? Sabu Peni menjawab , bersabarlah sebentar, suami ku sedang bersiap pergi memancing di laut. Kemudian terdengar suara Sabu Peni mengatakan pejamkan matamu Bolok Jawa pun menurutinya. takala membuka matanya ternyata ia sudah berada di sebuah rumah yang mewah. Bolok Jawa di persilahkan masuk, keduanya mencerita kehidupan masing masing. Sabu Peni mencertiakan kehidupan manusia dengan roh halus seperti dirinya, Sabu Peni mengatakan bahwa ladak yang di tangkap itu adalah ayam piaraannya. Kesempatan baik itu digunakan Sabu Peni untuk menunjukan harta suaminya, ternyata suaminya adalah seorang pemimpin di desanya semua warga sangat segan dan patuh kepadanya. Kemudian Sabu Peni berkata, jikalau suami ku pulang pasti dia sangat gembira dan akan menyedikan makan bagimu. Tapi, janganlah engkau makan sebelum cincin di jari manis di tangan kanannya di serahkan kepada mu. Semua harta itu tidak akan kekal tapi cincin itu akan kamu miliki secara turun temurun, simpanlah bersama gading, rantai emas dan uang perak sebagai kenangan kita berdua.

Hari sudah siang, suaminya kembali, segera Sabu Peni menyampaikan berita kunjungan kakaknya. Dewa Air sangat senang, di undangnya semua warga desanya. Malam harinya di adakan pesta, namum dikala santap bersama tiba, Dewa Air mempersilakan iparnya makan. Bolok Jawa menolaknya sampai beberapa kali, akhirnya Dewa Air memohon agar Bolok Jawa meminta apa saja yang ingin di perolehnya. Bolok Jawa meminta cincin permata di jari manis Dewa Air. Ia membukanya lalu mengenakan di jari manis Bolok Jawa, kemudian mereka bersantap bersama. Menjelang pagi Sabu Peni dan suaminya mengantarkan Bolok Jawa di depan pintu masuk perkarangan rumah. Setelah berpamitan mereka berpisah untuk selama lamanya. Dewa Air menyuruh Bolok Jawa memejamkan matanya, setalh di buka ternyata dirinya berada di tepi sumber air Leto Behe. Cincin yang di bawanya kemudian di simpan bersama gading, rantai emas dan uang perak di rumahnya.

Sampai kini di rumah adat marga Leyn. Di Desa Lewokluo Demong Pagong Kabupaten Flores Timur. Masih tersimpan dan terawat baik benda benda pusaka milik Bolok Jawa Leyn oleh keturunannya. Memang aneh tapi nyata anda dapat melihat sendiri sebatang gading besar yang tidak berongga. Rongganya kecil sepanjang 12 cm, rantai emas dan uang perak serta cincin waisat yang menjadi kebanggaan tersendiri dan kenangan kejayaan leluhur di masa silam.
Share this article :

Poskan Komentar